Filsafat Pendidikan Islam merupakan gabungan kata dari filsafat, pendidikan, dan islam. Kata islam menjadi pembeda antara filsafat umum ( konteks Barat ) dengan filsafat Islam.
Pentingnya belajar Filsafat Pendidikan Islam bagi Mahasiswa FTIK
Mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam sangat penting bagi Mahasiswa yang memilih Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, karena dilihat dari latar belakangnya FTIK sudah dipastikan sebagai Fakultas Keguruan yang berbasis Agama Islam. Jadi, lulusan dari Fakultas ini kelak akan menjadi calon-calon tenaga pendidik di masa yang akan mendatang.
Filsafat Pendidikan Islam merupakan hasil pemikiran yang hakikatya sebagai konsep berpikir yang bersumber pada ajaran Islam. Mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam merupakan sumber pengetahuan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi peserta didik. Filsafat Pendidikan juga sebagai pondasi dalam setiap praktik pembelajaran, ini akan melatih calon pendidik untuk memikirkan setiap apa yang harus dilakukan, alasan, serta solusinya.
Pendidikan islam sangat penting ditanamankan sejak usia dini untuk membentuk perilaku dan moral anak sesuai dengan ajaran islam dan menumbuhkan iman ketaqwaan kepada Allah SWT, juga sebagai usaha dalam mengembangkan potensi jasmani dan rohani agar bisa seimbang. Jadi dalam memperlajari filsafat juga harus disertai dengan pemahaman tentang agama islam agar dapat berjalan beriringan sesuai tujuan pendidikan.
Beberapa alasan mengapa sangat penting bagi Mahasiswa untuk mempelajari Filsafat Pendidikan Islam yaitu : 1.) Memiliki pemikiran yang kritis, calon pendidik pasti akan menghadapi berbagai masalah saat melakukan proses pembelajaran dikelas. Oleh karena itu, dalam memecahkan masalah harus memiliki keterampilan berfikir kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar dalam suatu masalah yang dihadapinya. 2.) Berfikir secara rasional dan logis, segala sesuatu pasti ada sebab dan akibatnya jadi dengan berfikir secara rasional dan logis, Mahasiswa akan mencari tahu sampai keakarnya dan tidak mudah untuk dibohongi / menjawab ”tidak tahu” karena mahasiswa sudah pasti memiliki jawabannya. 3.) Membangun semangat toleransi, dalam pembelajaran dikelas pasti ada perbedaan pendapat antara mahasiswa satu dengan yang lainnya, maka mahasiswa akan menghargai perbedaan pemikiran yang menyimpang ataupun yang satu pendapat. Karena dalam filsafat, seseorang tidak langsung menganggap sesuatu itu benar .
Kesimpulannya, kita harus mempelajari filsafat pendidikan islam dengan sebaik mungkin. Karena ketika kita terjun dalam lingkungan masyarakat akan mampu untuk membiasakan diri berpendapat secara kritis, rasional, dan logis. Mahasiswa itu dituntut tidak berupa teori saja tetapi harus bisa melaksanakannya secara langsung di dalam lingkungan bermasyarakat.
Point Point Penting yang sudah dipelajari selama Proses Pembelajaran
Pertemuan Pertama mempelajari : Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Secara bahasa kata filsafat berasal dari kata Philo/Philos/Philien yang berarti cinta dan kata Shopia/Shopos/Shopien yang berarti Kebijaksanaan. Secara Istilah Filsafat merupakan pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada. Filsafat atau yang dikenal dengan The Mother of Knowledge pertama kali ditemukan oleh Thales (bapak filsafat) berasal dari Yunani pada Abad 6 sebelum masehi.
Dalam konteks Barat, sumber dari segala sumber itu berasal dari manusia itu sendiri. Tuhan tidak memiliki kedudukan karena barat tidak mengenal adanya Tuhan. Dan juga dalam hal ilmu pengetahuan dipisah dengan ilmu keagamaan (berjalan sendiri). Sedangkan dalam konteks islam, pengetahuan sains dan teknologi dengan ilmu keagamaan berjalan secara beriringan.
Filsafat pendidikan Islam merupakan upaya mencari kebenaran, inti atau hakikat dari pendidikan Islam dengan cara berfikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dengan berdasarkan kepada ajaran Islam. Ada 4 karakter seseorang yang berfikir filsafat : 1.) Logis/masuk akal 2.) Sistematis/tertata 3.) Radikal/keras,akar 4.) Universal/menyeluruh.
Ruang lingkup Filsafat Pendidikan meliputi : 1.) Kosmologi merupakan pemikiran yang berhubungan dengan pembentukan alam semesta. 2.) Ontologi merupakan hakikat kebenaran segala sesuatu yang ada. 3.) Epistemologi merupakan pemikiran tentang sumber pengetahuan manusia diperoleh. 4.) Aksiologi merupakan pemikiran tentang masalah nilai-nilai.
Pertemuan Kedua mempelajari : Tuhan, Manusia, Alam Semesta, dan Ilmu Pengetahuan dalam Prespektif Filsafat Pendidikan Islam
Allah sebagai sebutan nama Tuhan. Keesaan Allah adalah mutlak. Tidak dapat dibandingkan dengan yang lain. Sebagai umat Islam harus mengutamakan Allah dalam setiap perbuatan dan perkataan. Dalam konteks Islam Tuhan sebagai sumber dari segala sumber, dalam Al Qur’an kata “robun” sebagai dzat yang mengatur dan mendidik manusia sedangkan kata “illah” diartikan tuhan yang tidak ada tuhan selainNya.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, tinggi derajatnya serta mempunyai nafsu dan akal pikiran. Oleh karena itu sebagai hamba, manusia memiliki kewajiban untuk melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah.
Alam Semesta menurut pandangan islam memiliki implikasi terhadap pendidikan yaitu Keterkaitan muslim dengan pencipta alam semesta melalui tujuan yaitu beribadah kepada Allah dan mendidik manusia supaya bersungguh-sungguh karena seluruh semesta ini diciptakan diatas landasan kebenaran dan diciptakan bukan untuk main main saja.
Ilmu merupakan hasil usaha manusia untuk memperkuat adab dan setiap ilmu dianggap suatu sistem yang menghasilkan kebenaran. Hendaklah kita untuk selalu mencari ilmu tidak mengenal waktu karena ini merupakan kewajiban kita sebagai umat islam. Sumbernya dari akal pikiran manusia yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist.
Pertemuan Ketiga mempelajari : Etika Keilmuan Prespektif Filsafat Pendidikan Islam
Dalam etika keilmuan Pragmatisme merupakan suatu sikap, metode, dan filsafat yang menggunakan akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran menetapkan nilai dan kebenaran. Pragmatisme bukan saja menghendaki pemisahan perilaku agama, tetapi Alira ini juga mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya bermanfaat secara praktis. Jadi segala sesuatu akan bernilai benar jika sesuatu itu dapat direalisasikan dan dirasakan langsung keberadaan maupun manfaatnya oleh manusia.
Kemudian Positivisme merupakan penggabungan dari pengalaman inderawi dan rasionlitas. Pengalaman dibutuhkan sebagai alat untuk menemukan data sebanyak mungkin agar kemudian akal mampu untuk menemukan hukum yang universalistik. Jadi, positivisme sebagai penyempurna dari empirisme dan rasionalisme dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran. Pada empirisme hanya menerima pengalaman bathiniah, sedangkan pada positivisme membatasi pada perjalanan objektif saja.
Etika keilmuan pada masa Renasissance yang artinya lahir kembali jadi ini merupakan jembatan antara abad pertengahan dengan zaman modern dan etika keilmuan pada paham Humanisme artinya ingin memperjuangkan nilai manusia mereka. Humanisme dalam Islam itu sama di mata Tuhan kecuali ketaqwaan dan keimanannya.
Pertemuan Keempat mempelajari : Tinjauan Filosofis Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan dari Pendidikan Islam yaitu untuk mengembangkan pikiran manusia serta tingkah laku sesuai dengan ajaran islam pada proses akhirnya untuk meralisasikan bentuk ketaatan kepada Allah baik secara individu maunpun bermasyarakat.
Pendidikan Islam harus mampu memenuhi kebutuhan tiga fungsi utama dari agama : 1.) fungsi spiritual yang berkaitan dengan akidah dan iman 2.) fungsi psikologis yaitu berkaitan dengan tingkah laku individu 3.) fungsi sosial yaitu berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan manusia. Pendidikan islam memiliki tujuan yang mengarah pada jasmani dan rohani yang berupa akal juga akhlak.
Pertemuan Kelima mempelajari : Tinjauan Filosofis tentang Pendidik
Pendidik merupakan orang yang bertanggung jawab atas perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan potensi dan keterampilan setiap peserta didiknya. Karena pendidik orang yang paling berpengaruh dengan kondisi peserta didiknya di sekolah jadi harus memiliki perilaku yang baik. Terdapat dalam Al Qur’an Surat Al-Mujadalah : 11 yang menjelaskan tentang Allah akan menaikkan derajat bagi orang yang beriman dan orang yang memiliki ilmu.
Setiap pendidik harus memiliki sikap Profesional dalam pembelajaran. Guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Tugas seorang guru tidak hanya menyampaikan materi kepada peserta didik, menguasai materi dan pandai berbicara saja, melainkan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada system pembelajaran.
Pertemuan Keenam mempelajari : Tinjauan Filosofis tentang Peserta Didik
Peserta didik merupakan individu yang mengalami perubahan serta pengembangan oleh karena itu dibutuhkan pendidik untuk mengarahkan dan membimbing pada proses pembelajaran. Setiap individu memiliki potensi positif dan juga negatif, kelemahan manusia itu termasuk dalam potensi negatif seperti godaan hawa nafsu. Oleh karena dibutuhkannya pendidikan untuk selalu membawa individu kearah potensi yang positif yang berguna dan bermanfaat terhadap setiap individu. Akhlak peserta didik itu berkaitan dengan ketuhanan dan dengan sesame manusia.
Pertemuan Ketujuh mempelajari : Tinjauan Filosofis tentang Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum ( Manhaj ) berasal dari bahasa Yunani Curere yang artinya Jarak tempuh pelari. Sedangkan menurut istilah merupakan serangkaian jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan akhir. Kurikulum sebuah kegiatan yang mencakup strategi belajar mengajar, progam ini dikhususkan untuk peserta didik yang melakukan proses pembelajaran.
Kurikulum pasti mengalami pengembangan dan perubahan sesuai dengan keadaan yang terjadi di lingkungan sekitar. Dasar kurikulum pendidikan Islam : 1.) Agama 2.) Falsafah3.) Psikologi 4.) Sosial. Sumber utama dalam perencanaan serta pelaksanaan kurikulum adalah Al Qur’an dan Al Hadist. Segala sesuatu yang dibutuhkan manusia sudah tertulis didalam FirmanNya yaitu Al qur’an. Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan yaitu : 1.) Intergrated/tidak memisahkan 2.) Universal/menyeluruh 3.) Balance/seimbang 4.) Mempertahankan fitrah dan bakat minat peserta didik 5.) Terbuka dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Hal Menarik yang Didapatkan dengan Belajar Filsafat Pendidikan Islam
Menurut saya, filsafat sangat menarik untuk dipelajari. Karena seseorang yang berpikir filsafat akan selalu mencari pemahaman yang paling mendalam dari suatu permasalahan sampai tidak ada keragu-raguan dan juga kita tidak boleh asal terima suatu pengetahuan tanpa bertanya atau mencari tahu kebenarannya. Filsafat juga bisa membuat seseorang untuk memiliki pondasi yang kokoh dalam suatu ilmu dan menjadikannya seseorang yang bijaksana.
Saya pernah membaca salah satu kutipan kalimat yang dipaparkan oleh ahli filsafat, Roky Gerung “Filsafat itu menyesatkan, menyesatkan kita kejalan yang benar”. Islam sendiri meruapakan satu satunya agama yang menentang dikotomi ilmu agama dan ilmu umum karena ilmu agama dan ilmu umum saling berhubungan, karena itulah terdapat Filsafat Pendidikan Islam.
Manusia diberi akal oleh Allah digunakan untuk berpikir secara kritis dan logis terhadap sesuatu, seperti Ayat dalam Al Qur’an dan Al Hadist hanya berupa teks saja jadi perlu menggunakan akal untuk memahami apa isi yang terkandung didalamnya.
Harapan Mahasiswa setelah Mempelajari Filsafat Pendidikan Islam
Harapan saya sebagai Mahasiswa dalam mempelajari Mata Kuliah Filsafat Pedidikan akan lebih menyadari pentingnya kegiatan berpikir, memahami penyebab terjadinya, memahami obyek, arah dan tujuan dari kegiatan berpikir, memahami cara dan langkah-langkah kegiatan berpikir yang baik untuk tercapainya suatu tujuan. Sehingga kita dapat mengusahakan secara optimal dalam kehidupan sebagai bentuk mengembangkan diri.
Ketika awal perkuliahan di Mata Kuliah ini, saya berpikir bahwa hanya akan menambah beban pikiran saja dan membuat pusing karena tidak mudah untuk dipahami. Jadi, pada saat jam perkuliahan Dosen harus memberikan metode pembelajaran yang menarik dan sesuai, agar mahasiswa tidak merasa terbebani. Oleh sebab itu, kita juga harus mengubah cara berpikir kita tentang filsafat. Kita diharapkan bukan hanya menunggu informasi dan materi yang diberikan oleh dosen, tetapi diharapkan aktif memikirkan hal yang dibahasnya pada setiap proses pembelajaran, berusaha untuk menemukan sendiri lingkup materi yang dibahas, dan menemukan nilai- nilai, persoalan atau permasalahan yang terkandung di dalamnya, kemudian selanjutnya berusaha memperoleh penjelasannya serta cara-cara untuk memecahkannya,
Komentar
Posting Komentar